Menakar Asa Bioflok KKP: Bukan Sekadar Etalase di Penas Gorontalo
ORCANEWS.ID - Panggung Pekan Nasional (Penas) Petani Nelayan XVII di Gorontalo baru saja usai. Namun, gema yang ditinggalkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) lewat promosi Kampung Budi Daya Tematik masih menyisakan catatan tebal. Di tengah ancaman krisis iklim yang mendikte stabilitas pangan global, langkah KKP menyodorkan konsep teknologi adaptif seperti bioflok, Yumina-Bumina, hingga mini Recirculating Aquaculture System (RAS) patut diapresiasi sebagai ikhtiar taktis.
Pertanyaannya kemudian: apakah inovasi mentereng ini mampu mengakar di pekarangan rakyat, ataukah sekadar menjadi komoditas etalase pameran tahunan?
Secara konseptual, cetak biru yang ditawarkan KKP melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDM KP) sangatlah seksi. Memindahkan episentrum produksi protein ke pekarangan rumah adalah jawaban atas menyusutnya lahan produktif. Bioflok dan integrasi akuakultur-sayuran bukan lagi barang baru di laboratorium, tetapi ketika didorong sebagai penyangga program makro seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), narasinya berubah menjadi strategis. Ini bukan lagi soal hobi memelihara lele, melainkan tentang kedaulatan pangan yang didesentralisasi hingga ke level dapur keluarga.
Namun, jurnalisme yang jernih harus berani menembus batas euforia seremonial. Mengubah pola pikir masyarakat dari konsumen menjadi produsen berbasis teknologi bukan perkara membalik telapak tangan. Bioflok, misalnya, menuntut ketelitian tinggi terkait manajemen kualitas air, pasokan listrik yang stabil, dan pakan yang harganya kerap mencekik pembudi daya kecil. Tanpa pendampingan yang persisten, sistem ini rentan mangkrak dan bertransformasi menjadi monumen kegagalan teknologi di daerah.
Di sinilah letak krusialnya peran penyuluh perikanan sebagai garda terdepan. Kepala BPPSDM KP, I Nyoman Radiarta, benar ketika menekankan pentingnya kolaborasi. Penyuluh tidak boleh sekadar menjadi kurir brosur program. Mereka harus menjadi mentor, analis risiko, sekaligus jembatan pasar bagi masyarakat. Sayangnya, rasio jumlah penyuluh dengan luas wilayah binaan di Indonesia sering kali tidak berimbang. Jika infrastruktur SDM ini tidak dibenahi secara radikal, maka transfer teknologi pertanian-perikanan modern ini akan tersendat di tengah jalan.
Kita tidak boleh membiarkan Kampung Budi Daya Tematik layu sebelum berkembang. Penas Gorontalo harus menjadi titik tolak amplifikasi, bukan akhir dari cerita. Pemerintah perlu memastikan ketersediaan benih unggul yang murah, skema pembiayaan mikro yang ramah, dan jaminan pasar agar hasil panen pekarangan warga tidak mubazir.
Ketahanan pangan nasional tidak akan pernah tercapai jika kita hanya bergantung pada proyek-proyek mercusuar berskala raksasa di luar pulau yang kerap memicu konflik agraria. Sebaliknya, kemandirian itu justru diuji dari sejauh mana teknologi tepat guna mampu diadopsi oleh jemari ibu-ibu rumah tangga dan para pemuda desa. KKP telah melempar umpan yang bagus di Gorontalo; kini publik menunggu apakah umpan tersebut akan menghasilkan ketahanan pangan yang riil, atau menguap bersama penutupan stan pameran.
What's Your Reaction?