PSDKP Buka Wawasan Global dari Laut Nusantara
Laut Indonesia kembali jadi panggung ilmu dan diplomasi. Melalui program PSDKP Mengajar, generasi muda internasional diajak memahami laut bukan sekadar sumber pangan, melainkan ruang hidup yang harus dijaga.
ORCANEWS.ID - Laut Indonesia sekali lagi menjadi ruang belajar dunia. Melalui program PSDKP Mengajar, Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) hadir di tengah mahasiswa internasional peserta short course “From Beans to Waves: A Journey Through Cirebon’s Coffee, Kingdom Heritage, and Northern Java’s Seafood” yang digelar di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Kejawanan Kota Cirebon, Rabu (27/8/2025).
Peserta berasal dari Rusia, Thailand, Kamboja, Malaysia, Bangladesh, Sudan, hingga India. Mereka memperoleh perspektif baru bahwa laut bukan hanya sumber pangan, melainkan juga simbol kedaulatan dan ruang hidup yang harus dilindungi.
Direktur Jenderal PSDKP, Dr. Pung Nugroho Saksono, menilai kehadiran mahasiswa internasional yang mengetahui kerja besar Ditjen PSDKP merupakan hal positif. Menurutnya, laut Indonesia yang luas dan kaya memang perlu dijaga tidak hanya melalui pengawasan teknis, tetapi juga lewat edukasi dan diplomasi maritim yang melibatkan generasi global.
Sementara itu, Kepala Pangkalan PSDKP Jakarta, Sigit Bintoro, menegaskan bahwa kegiatan ini tidak berdiri sendiri. Program tersebut terlaksana berkat sinergi dengan Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap melalui Kepala PPN Kejawanan Yusuf Fathanah, serta dukungan akademik dari Universitas Muhammadiyah Cirebon yang menjadi tuan rumah program internasional ini.
“Kolaborasi ini membuktikan bahwa pengawasan kelautan bukan hanya urusan teknis, melainkan juga soal edukasi dan diplomasi maritim,” ujar Sigit.
Dalam pemaparannya, Sigit menjelaskan peran krusial Ditjen PSDKP dalam melindungi biota laut dari ancaman illegal fishing. Ia mengungkapkan banyak pelaku penangkapan ikan ilegal berasal dari negara-negara yang perairannya telah rusak akibat praktik destruktif.
“Mereka datang ke Indonesia karena laut kita masih kaya. Di sinilah PSDKP hadir menjaga agar kekayaan itu tidak dijarah,” tegasnya.
Para mahasiswa internasional tampak antusias mendengar penjelasan mengenai berbagai modus pelanggaran laut yang pernah ditangani Indonesia, mulai dari illegal fishing, penyelundupan benih bening lobster (BBL), hingga perusakan ruang laut.
Mereka juga diperlihatkan data capaian PSDKP periode 2020–2024, termasuk keberhasilan menyelamatkan potensi kerugian negara lebih dari Rp3 triliun serta menangkap ratusan kapal asing pencuri ikan.
Pesan itu sejalan dengan isu strategis yang dihadapi PSDKP: pencemaran laut, pemanfaatan ruang ilegal, hingga perdagangan orang di sektor perikanan. Mahasiswa diberi pemahaman bahwa pengawasan laut bukan sekadar patroli, melainkan juga melibatkan sistem hukum, teknologi, dan diplomasi yang terintegrasi.
Kegiatan PSDKP Mengajar di Cirebon menunjukkan bahwa laut Indonesia bukan hanya milik nelayan lokal, melainkan juga sumber pengetahuan global.
Dengan melibatkan generasi muda internasional, PSDKP memperlihatkan wajah baru: lembaga pengawasan yang tak hanya bekerja di laut, tetapi juga membangun kesadaran dunia bahwa menjaga laut sama dengan menjaga masa depan.
Di akhir sesi, para mahasiswa diajak naik kapal nelayan tradisional menyusuri pantai utara Cirebon dan mengikuti open ship Kapal Pengawas Hiu 10. Kapten Kapal, Alfian Kiay Baderan, menyambut hangat mahasiswa internasional dan berbagi pengalaman tentang tugas-tugas kapal pengawas.
Salah seorang mahasiswa asal Thailand mengaku terkesan.
“Kami tidak menyangka laut Indonesia begitu kompleks, ada sisi biologis, politik, dan bahkan diplomasi. Ini pengalaman yang membuka wawasan,” ujarnya.
Hari itu, Cirebon bukan hanya menjadi titik temu kopi dan seafood, tetapi juga perjumpaan gagasan tentang laut sebagai ruang kehidupan dunia. Dari Kejawanan, pesan PSDKP menggaung kuat: menjaga laut berarti menjaga peradaban.
What's Your Reaction?