Menurut Prof Rokhmin, sektor kelautan dan perikanan masih menjadi pilar strategis pembangunan nasional yang belum dimanfaatkan secara optimal.
“Kita memiliki 6,4 juta kilometer persegi wilayah laut, garis pantai terpanjang kedua di dunia, dan ekosistem mangrove terluas di bumi. Potensi ini menjadikan Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam pengembangan budidaya kepiting bakau bernilai ekonomi tinggi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pada 2021 produksi kepiting Indonesia mencapai 25.865 ton dengan nilai ekonomi sekitar Rp1,8 triliun, di mana 93,5 persen berasal dari budidaya. Namun, angka itu masih tertinggal jauh dibanding Tiongkok, Filipina, dan Vietnam.
“Padahal, kalau kita mampu mengelola potensi hutan mangrove yang ada dengan pendekatan ekonomi biru, Indonesia bisa menjadi produsen kepiting nomor satu dunia,” tegas Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) itu.
Prof Rokhmin mengingatkan bahwa ancaman terhadap keberlanjutan produksi kepiting semakin nyata.
“Kita menghadapi overfishing, kerusakan mangrove, pencemaran, hingga dampak perubahan iklim global. Karena itu, transformasi menuju pengembangan penangkapan, budidaya, dan industri pengolahan kepiting secara terpadu berbasis ekonomi biru harus segera diwujudkan,” katanya.
Lebih lanjut, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan 2001–2004 itu menekankan pentingnya penguatan riset, industrialisasi hatchery, akses pembiayaan mikro, dan kemitraan adil antara masyarakat, pemerintah, kampus, dan sektor swasta.
“Ekonomi biru bukan hanya tentang efisiensi dan keuntungan, tetapi juga tentang keberlanjutan sosial dan ekologis. Kita ingin membangun sistem perikanan yang produktif, efisien, inklusif, dan ramah lingkungan,” ujarnya.
Rokhmin juga menyoroti potensi besar pasar global yang terus tumbuh, dengan nilai pasar kepiting dunia diperkirakan mencapai USD 4,21 miliar pada 2030. “Kuncinya adalah inovasi teknologi budidaya, pengolahan bernilai tambah, dan pemasaran digital agar kepiting Indonesia memiliki daya saing di pasar dunia,” imbuhnya.
Forum ilmiah tersebut turut dihadiri akademisi, peneliti, pelaku usaha, dan pejabat dari sektor kelautan dan perikanan. Dalam forum ini, Rokhmin menutup paparannya dengan ajakan reflektif: “Jika ekonomi biru diterapkan dengan sungguh-sungguh, bukan hanya kepiting yang makmur, tapi juga rakyat pesisir akan sejahtera, dan Indonesia bisa melangkah pasti menuju Indonesia Emas 2045.”