Indonesia–Australia Perkuat Sinergi Maritim
Indonesia dan Australia perkuat kerja sama pengawasan perikanan melalui workshop strategis berbasis teknologi VMS dan kebijakan penangkapan ikan terukur di Jakarta.
ORCANEWS.ID - Laut bukan hanya tentang ikan, tapi juga tentang data, teknologi, dan kepatuhan hukum. Dalam semangat kemitraan regional dan komitmen menjaga keberlanjutan sumber daya laut, Indonesia dan Australia menggelar workshop pengawasan kepatuhan perikanan di Direktorat Pengendalian Operasi Armada (POA), Jakarta, Rabu (18/6).
Acara ini mempertemukan pejabat tinggi dari Department of Agriculture, Fisheries and Forestry (DAFF) Australia dan Australian Fisheries Management Authority (AFMA) dengan jajaran Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP).
Direktur Pengendalian Operasi Armada Ditjen PSDKP, Saiful Umam, membuka kegiatan dengan semangat dan optimisme.
“Atensi Dirjen PSDKP, Bapak Dr. Pung Nugroho Saksono bahwa Ini bukan sekadar workshop, tapi sebuah momentum strategis yang akan mempererat kolaborasi lintas negara dalam pengawasan perikanan. Kami sangat senang dapat menyambut dan bertemu perwakilan AFMA di Jakarta,” ungkapnya.
Dalam sambutannya, Saiful Umam menekankan bahwa tantangan pengelolaan sumber daya perikanan makin kompleks, mulai dari praktik penangkapan ilegal, pelanggaran lintas batas, hingga kebutuhan integrasi sistem pemantauan kapal yang andal dan berbasis teknologi. Oleh karena itu, kolaborasi antara Indonesia dan Australia dianggap sebagai langkah konkret menghadapi tantangan tersebut.
Perwakilan dari Australia yang hadir antara lain Dean Roberts (Agriculture Counsellor DAFF), Tod Spencer (Senior Manager, National Compliance Operations, AFMA), Fraser McEachan (Manager, Foreign Compliance Policy), Eric Appleyard (Senior Maritime Domain Awareness Officer), dan Saiful Marbun (Acting Manager, Foreign Compliance Policy). Mereka disambut hangat dalam suasana akrab dan penuh apresiasi.
“Australia memiliki pengalaman panjang dalam penerapan Vessel Monitoring System (VMS) yang sukses. Ini menjadi inspirasi bagi kami untuk terus menyempurnakan sistem pengawasan perikanan nasional,” lanjut Saiful.
Ia juga menyinggung kebijakan penangkapan ikan terukur yang saat ini tengah digalakkan pemerintah Indonesia, yang salah satu elemennya adalah penguatan sistem pemantauan kapal berbasis sains dan teknologi.
Workshop ini menjadi ruang interaktif untuk berbagi praktik baik, studi kasus, hingga eksplorasi ide baru dalam pengawasan dan penegakan hukum perikanan. Kegiatan ini pun diharapkan tidak berhenti sampai di sini.
“Kami ingin kegiatan seperti ini terus berlanjut, rutin dilakukan, dan berkembang menjadi program strategis jangka panjang,” ujar Saiful.
Para peserta workshop diberikan kesempatan untuk saling mengenal, memperkenalkan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Sesi pembukaan ditutup dengan undangan kepada perwakilan DAFF dan AFMA untuk memberikan kata pengantar dan menyampaikan pandangan mereka terhadap pentingnya kerja sama ini.
Setelah sesi resmi, suasana berubah lebih hangat dan informal. Teh dan hidangan ringan disajikan di luar ruangan, menjadi momen berharga untuk membangun jejaring personal antar delegasi. Gelak tawa dan obrolan ringan menandai bahwa diplomasi tidak hanya terjadi di ruang rapat, tetapi juga di ruang santai yang penuh keakraban.
Kerja sama Indonesia dan Australia dalam pengawasan sumber daya kelautan bukan hanya soal strategi, tetapi juga tentang berbagi nilai, saling percaya, dan kesadaran akan tanggung jawab bersama menjaga masa depan laut.
What's Your Reaction?