VMS, Jejak Digital Sang Penjaga Laut
VMS bantu pantau kapal perikanan, dukung keselamatan nelayan, cegah ilegal fishing, dan wujudkan pengawasan laut modern berbasis teknologi oleh Ditjen PSDKP KKP
ORCANEWS.ID - Laut bukan hanya hamparan biru nan luas. Bagi bangsa Indonesia, laut adalah napas kehidupan, jalur peradaban, dan arena perjuangan. Sejak ribuan tahun silam, nenek moyang kita telah mengarungi samudra dengan perahu bercadik, menjelajah Nusantara hingga Madagaskar. Mereka bukan hanya pelaut tangguh, tapi juga navigator alam semesta yang menyatu dengan bintang, angin, dan gelombang.
Filosofi itu tetap hidup hingga kini. Dalam denyut kehidupan nelayan, dalam gemuruh kapal-kapal perikanan, dan dalam semangat menjaga kedaulatan sumber daya laut. Namun, zaman telah berubah. Kini lautan tak hanya menuntut keberanian, tapi juga kecermatan dan teknologi. Di sinilah Vessel Monitoring System (VMS) hadir sebagai penanda zaman baru dalam pengelolaan kelautan dan perikanan Indonesia.
VMS atau Sistem Pemantauan Kapal Perikanan (SPKP) bukan sekadar alat pelacak. Ia adalah mata digital yang mengawasi pergerakan kapal perikanan secara real time, memastikan semuanya berjalan sesuai koridor hukum, keselamatan, dan keberlanjutan. Bayangkan laut seluas 6,4 juta kilometer persegi—dengan ribuan kapal melintas setiap hari—dapat dipantau dari satu layar. Inilah revolusi maritim yang sedang berlangsung di balik layar.
Manfaatnya nyata dan menyentuh langsung kehidupan para nelayan. Saat mesin kapal rusak di tengah laut, atau saat cuaca tiba-tiba mengganas, keberadaan VMS memungkinkan pemantauan dan pertolongan lebih cepat. Tak hanya itu, sistem ini juga melindungi kapal dari potensi insiden, baik karena kecelakaan maupun pelanggaran wilayah tangkap. Teknologi ini adalah “penjaga tak terlihat” yang siaga 24 jam.
Di balik semua ini, berdiri kokoh Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (Ditjen PSDKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Lembaga ini menjadi garda depan dalam pengawasan laut Indonesia, dari memantau aktivitas kapal, menangani pelanggaran, hingga memastikan sumber daya laut tidak terkuras tanpa kendali.
Dirjen PSDKP, Dr. Pung Nugroho Saksono menjelaskan, melalui VMS, Ditjen PSDKP mengintegrasikan data, kecerdasan buatan, dan respons cepat dalam satu ekosistem pengawasan modern.
Menurutnya, teknologi ini tidak menghapus nilai-nilai kearifan lokal, justru memperkuatnya. VMS adalah lanjutan dari insting pelaut Nusantara yang dulu membaca rasi bintang, kini dengan membaca sinyal satelit.
"Dulu memanfaatkan arah angin, kini memanfaatkan data koordinat. Dulu menandai laut dengan ingatan, kini dengan presisi digital," ujar Dirjen PSDKP yang akrab disapa Ipunk. Rabu (16/04).
Lebih lanjut, Ipunk mengungkapkan, pentingnya VMS juga mengarah pada pembangunan ekonomi biru yang berkelanjutan. Dengan sistem ini, penangkapan ikan ilegal dapat ditekan, transparansi meningkat, dan kepatuhan terhadap zona tangkap dapat dijaga. Semua ini bermuara pada keberlangsungan ekosistem laut dan kesejahteraan nelayan di masa depan.
VMS bukan sekadar alat. Ia adalah simbol transformasi maritim Indonesia. Simbol bahwa bangsa pelaut kini berdiri tegak di atas teknologi. Simbol bahwa laut, sebagaimana sejarahnya, tetap menjadi pusat kejayaan negeri ini. Dan simbol bahwa Ditjen PSDKP KKP terus bekerja, memastikan agar laut Indonesia tetap menjadi sumber harapan, bukan sekadar cerita masa lalu.
Saat teknologi dan filosofi bahari menyatu, kita tak hanya menjaga laut—kita merawat jati diri bangsa.
What's Your Reaction?